07.43
Masturbasi merupakan kegiatan seksual mengasyikan dimana pelaku masturbasi tidak membutuhkan partner seks untuk mencapai kepuasan.

Banyak studi telah dilakukan untuk menyingkap rahasia dibalik pengaruh masturbasi baik itu secara psikis maupun fisiologis.

Masturbasi yang dapat bermanfaat bagi kesehatan adalah jenis masturbasi sehat, yang dalam prakteknya tidak berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari, misal pekerjaan, hubungan dengan pasangan, dan kondisi mental seseorang hingga menyebabkan kecanduan atau gangguan seksual lainnya.

Berikut 9 mitos seputar masturbasi paling menyesatkan yang banyak dipercayai seperti dikutip dari detikHealth:

Mitos 1: Masturbasi hanya untuk remaja
Kebanyakan orang mempercayai bahwa masturbasi hanya dilakukan oleh remaja yang belum menikah dan tidak dapat menyalurkan hasrat seksualnya.

Tetapi sebenarnya masturbasi adalah kegiatan seksual seumur hidup yang dapat dilakukan oleh siapa saja pada usia berapapun. Survei menunjukkan bahwa sekitar 70-95 persen pria maupun wanita dewasa melakukan masturbasi.

Mitos 2: Masturbasi menyebabkan kebutaan, jerawat, rambut rontok, kelelahan kronis, telapak tangan berbulu atau kanker.
Hal ini tidak benar, bahkan dokter menyatakan masturbasi memiliki manfaat medis seperti meringankan stres, insomnia, sakit kepala, dan kram menstruasi.

Mitos 3: Masturbasi tidak banyak memberikan manfaat dibanding seks yang sebenarnya

Ketika orang melakukan masturbasi, dirinya dapat benar-benar terangsang dan dapat pula mengakibatkan orgasme. Dari perspektif kesehatan, masturbasi dapat memberikan manfaat nyata seperti melakukan seks.

Mitos 4: Orang-orang yang sudah menikah tidak perlu masturbasi
WebMD melaporkan bahwa orang yang telah menikah justru lebih sering melakukan masturbasi daripada orang yang masih sendiri. Hal ini mungkin ditemukan pada kasus suami istri yang tinggal berjauhan atau orang yang ingin meningkatkan kemampuan hubungan seks dengan pasangan dan melakukan masturbasi sebagai latihan.

Mitos 5: Pria harus masturbasi, wanita tidak
Sementara statistik memang menunjukkan bahwa masturbasi kebanyakan dilakukan oleh pria dibanding wanita. Tetapi salah jika ada anggapan bahwa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, pria diharuskan untuk masturbasi.

Baik pria maupun wanita sama-sama memiliki nafsu biologis dan masturbasi adalah pilihan masing-masing orang, sehingga tidak ada aturan bahwa pria harus masturbasi sedangkan wanita tidak boleh melakukannya.

Mitos 6: Masturbasi memperburuk seks yang sebenarnya
Hal ini salah, karena para ahli percaya bahwa masturbasi dapat membantu membuat seks menjadi lebih baik dan bukannya lebih buruk. Dengan masturbasi, Anda dapat menemukan sendiri titik-titik pada tubuh yang lebih sensitif terhadap rangsangan dan katakanlah pada pasangan Anda agar dapat mewujudkan seks yang lebih baik hingga mencapai orgasme.

Mitos 7: Masturbasi hanya dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan psikologis
Masturbasi bukan hanya dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan psikologis, seperti antisosial, gemar menonton video porno, atau ketagihan seks. Tetapi orang-orang dengan psikologis yang sehat juga dapat melakukan masturbasi.

Mitos 8: Masturbasi menyebabkan penyakit menular seksual (PMS)
Mitos ini tentu keliru karena PMS hanya dapat menyebar melalui kontak dari kulit ke kulit atau transmisi cairan tubuh dari pasangan yang terinfeksi.

Mitos 9: Sering masturbasi mempengaruhi kesuburan seorang wanita atau produksi sperma pria.
Masturbasi yang sehat adalah praktik seksual yang benar-benar aman dan tidak memiliki dampak negatif pada fungsi reproduksi.

0 komentar:

Poskan Komentar